Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Sering Dibanding-bandingkan, Kakak Sri Mulyani Tetap Happy

Menjadi kakak dari Menko Perekonomian sekaligus Menteri Keuangan Sri Mulyani tentu tidak nyaman. Orang akan selalu membanding-bandingkan dengan salah satu dari 100 wanita berpengaruh di dunia itu.

Setidaknya hal itu memang dirasakan oleh kakak Sri Mulyani, Nining Soesilo. Direktur UKM Center FEUI yang juga salah satu kandidat Dekan FEUI ini memang mengakui bahwa memang awalnya tidak nyaman berada di bawah bayang-bayang Sri Mulyani.

"Lucu juga sebenarnya, biar bagaimanapun dia kan adik saya. Awal-awalnya terus terang enggak nyaman juga, sering orang bilang wajah saya memang ada miripnya dengan adik saya. Saya bilang, sebetulnya dia kan yang mirip saya karena saya lahir duluan kan. Lama-lama saya pikir ya sudahlah, saya terima apa adanya," ujar Nining dalam wawancaranya dengan detikFinance di kawasan Panglima Polim, Jakarta, Senin (16/3/2009) malam.

Sri Mulyani dan Nining merupakan putri dari pasangan Prof. Satmoko (alm.) dan Prof. Dr. Retno Sriningsih Satmoko (alm.) yang seluruhnya berjumlah 10 orang. Sri Mulyani merupakan putri ke-7, sementara Nining adalah putri ke-3.

Nining mengisahkan, dalam keluarga besarnya, selalu dididik untuk mencari ilmu yang disukainya. Tak heran, dari 10 bersaudara, masing-masing memiliki disiplin ilmu yang berbeda. Namun dengan kekebasan untuk memilih ilmu yang disukai itulah membuat Nining bersaudara tidak pernah terpaksa untuk belajar.

"Di keluarga saya, kita dididik untuk mencari satu ilmu yang disukai, dengan begitu kan kalau belajar tidak seperti dikejar-kejar. Karena dengan begitu kita bisa senang, jadi kita tidak berpikir yang tidak-tidak," ujarnya.

Meski jarang bertemu dengan Sri Mulyani, namun Nining mengaku sangat dekat dengan adiknya itu. Pertemuan dengan Sri Mulyani masih sering dilakukan namun tak pernah membahas masalah pekerjaan.

"Kadang kalau saya sudah di rumah dia juga sudah enggak ada waktu untuk bicara pekerjaan, kita memang coba hindari itu. Kalau ketemu kita kayak keluarga aja, yang karaoke-an atau apa karena dia juga butuh untuk menghilangkan beban. Jadi kita tempatkan diri sebagai kakak dan adik saja, enggak ngomongin kerjaan," ujar lulusan ITB ini.

"Dengan orang tua kita yang sudah enggak ada, supporting one and another itu mulai kerasa. Adik saya itu kan geraknya agak terbatas karena segala hal yang berhubungan dengan profesinya, nah di keterbatasan itu kami coba untuk bisa memberinya ruang untuk ekspresif ke kami. Jadi mungkin fungsinya lebih ke situ," tambahnya lagi.

Mengeni orang yang masih terus membanding-bandingkan dirinya dengan Sri Mulyani, Nining memilih untuk tidak menanggapi. Segala hal dibuatnya sebagai sesuatu yang menggembirakan.

"Kami enggak punya cukup waktu untuk menanggapi itu dan membuatnya jadi beban karena kami berdua sibuk. Jadi silahkan saja. Kita juga enggak sempet mikirin kesitu. Jadi happy aja lah. Kalau di ekonomi kan ada pilihannya mau jadi aset atau lialibity, jadi harta atau utang. Kalau kita berpikir negatif itu akan menjadi utang karena menjadi beban. Kalau kita berpikir positif kan nantinya jadi harta. Kalau kita bersyukur kan Allah bakal memberi nikmat, jadi ya kita bersyukur saja," pungkasnya.


Selasa, 17/03/2009 11:34 WIB
Detik Finance

Meneladani Prof Satmoko

Pendidikan Humanis dari sang Nasionalis

PROF Drs Satmoko, salah seorang guru besar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (FIP Unnes) memang telah wafat pada 23 Desember 2006. Dia adalah dosen biasa, dengan pemikiran sederhana, bahwa pendidikan merupakan proses yang membawakan nilai-nilai pencerahan.

Tetapi bagi saya, juga orang-orang yang pernah menjadi muridnya, Satmoko memiliki konsisten luar biasa sebagai bapak, guru, dan teman pengajar.

Kepergiannya sebagai salah satu dari tiga guru besar emiritus yang masih bersedia mengembangkan mata kuliah Ilmu Pendidikan di FIP Unnes sungguh merupakan kehilangan besar bagi komunitas Ilmu Pendidikan. Sebagai pelopor perkembangan Ilmu Pendidikan, ia mengutamakan pendidikan nilai, memiliki pandangan filosofi tegas tentang humanisme dan nasionalisme.

Pandangannya ini segaris dengan dua koleganya dari Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Dr Noeng Muhajir dan Prof Dr Sodik Azis Kuntoro Med. Baginya, mendidik guru adalah membangun karakter bangsa Indonesia yang kokoh. Satmoko mengakui selama ini Indonesia belum pernah menemukan landasan filosofi yang relevan dengan jiwa bangsa Indonesia.

Dua dua bulan sebelum wafat, Satmoko berkesempatan menerima saya untuk diwawancarai dalam rangka membuat kerangka pemikiran filosofis tentang mazhab pendidikan di Indonesia. Berikut rangkuman pemikirannya, yang mudah-mudahan berguna bagi kita yang masih hidup di dunia.

Belum Terumuskan

Menurut Satmoko, bangsa Indonesia belum pernah merumuskan filsafat pendidikannya sendiri, karena banyak distorsi. Begitu Indonesia merdeka dan bebas dalam berpikir, kita justru belum mampu memanfaatkan kebebasan itu. Kita terbentur pada kebhinekaan. Secara historis, sebelum Belanda datang, sebenarnya Indonesia sudah memiliki ''sistem'' pendidikan sendiri, yaitu pada zaman Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram yang bersifat feodalistis.

Budaya feodal berwatak sentralis, sehingga menjadi panutan yang kuat. Para pemikir seperti Ronggowarsito yang futuristik sudah meramalkan bahwa zaman yang akan datang bakal terjadi pluralisme yang cenderung tidak beraturan. Nilai-nilai dasar budaya Indonesia yang plural belum sempat menjadi sistem yang dianut oleh semua pihak.

Sampai sekarang belum pernah ada suatu teori pendidikan yang didukung riset. Riset yang ada selalu mengacu Amerika. Di Indonesia, sifat pendidikan direduksi menjadi schooling (sekolah formal) -kesimpulan yang dinilai terlalu tergesa-gesa. Harusnya, secara embrional, pendidikan itu harus dilihat dalam kekuatan keluarga. Bagaimana orang tua dan masyarakat mendidik anak-anaknya (filsafat ing ngarsa asung tuladha).

Guru sekolah itu kedudukannya ada dalam proses persekolahan. Guru adalah fasilitator (ing madya mangun karsa), yang aktif mendorong anak dalam arah yang benar. Tetapi guru yang berkualifikasi tidak sempat mengenal siswanya, karena tanggung jawabnya cukup besar sementara gajinya kecil.

Satmoko melihat kejadian sebagai akar fenomenologi yang berkembang di Indonesia. Embrio pemikiran tentang sistem pendidikan nasional berasal dari Ki Hajar Dewantara yang menanamkan nilai dasar budaya Indonesia. Taman Siswa bukan penonjolan budaya Jawa, tetapi perlawanan budaya lokal kepada pemerintah kolonialisme Belanda yang mendapat pembenaran dari berbagai suku lain.

Pada dasarnya mendidik adalah tanggung jawab yang mesti ditangani orang tua, bukan guru. Orang tua tak siap untuk mendidik, karena ia melahirkan anak tanpa ilmu pendidikan, tapi secara instinktif. Orientasi filosofi orang tua sederhana saja, yaitu berupaya menanamkan nilai-nilai kemandirian untuk anak, dan sekaligus memberi bekal untuk meneruskan hidupnya.

Kemudian orang tua menyadari bahwa dalam hidup, manusia tidak hanya mengejar kejerahan materi, tapi hendaknya juga menyiapkan diri di masa akhir dunia. Dengan demikian, yang dibekalkan pada anak hendaknya persiapan untuk hidup did unia dan akhirat. Beberapa orang lalu dapat saling membandingkan pengalaman masing-masing.

Praktik dengan Percontohan

Prof Satmoko menilai pengaruh Amerika besar sekali terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Depdiknas hanya mengambil filsafat tut wuri handayani. Para pendidik kita yang belajar di AS tidak mampu membendung masuknya liberalisasi dan individualisasi. Anak, dalam teori behavioralistik, diasumsikan merupakan potensi, naturalistik harus didukung dengan filsafat tut wuri handayani.

Padahal Ki Hajar Dewantara mengajarkan ketiga kesatuan (Tripusat) tak terpisahkan. Karena seorang anak juga butuh diberi contoh (tuladha), sedangkan guru sebagai fasilitator harus mampu memberi arah pendidikan nilai yang jelas. Sehingga guru Indonesia menjadi korban. Di satu pihak belum memiliki filosofi Indonesia, tetapi di tataran praksis mengalirlah praktik pendidikan dengan program pengajaran yang sangat liberal.

Pendekatan kompetensi diterapkan dalam pendidikan dan teknologi, serta disikapi sebagai panglima yang mengarahkan mutu pendidikan. Kita bisa menyaksikan ukuran-ukuran mutu hasil pendidikan yang dikaitkan dengan peningkatan knowledge. Ujian Negara (UN) menjadi patokan, padahal kita tidak menerima anak sebagai unsur teknologi, tetapi sebagai pribadi manusia.

Indonesia sebetulnya memiliki filsafat Pancasila sebagai landasan filosofi pendidikan. Pada masa lalu, Pancasila kehilangan spiritnya karena inkonsistensi sikap dari bangsa kita. Filsafat Pendidikan Pancasila mengajarkan banyak hal, mulai dari unsur religi, demokrasi, human relation, sampai keadilan. Tetapi masuknya liberalisme dan kapitalisme membuat kita menjadi sangat behavioristik. Anak didik dipaksa untuk kreatif, inovasi dan bebas, tetapi guru tidak bertanggung jawab pada pembentukan nilai-nilai anak. Liberalisme dan kapitalisme hanya melahirkan kemampuan memilih peluang, tetapi tidak menghasilkan sikap dan moral.

Bagi Satmoko, hidup merupakan patron. Selama hidupnya, dia memberi tuladha kepada istri dan 10 anaknya untuk hidup sederhana dan mengembangkan nilai-nilai hidup normatif berdasarkan ajaran agama. Kondisi ini tidaklah mudah, apalagi pada masa Orde Baru di mana tuntutan kemajuan materi sangat tinggi.

Dengan kesederhanaan, ia mengantar putera-puterinya menapaki kehidupan dengan pasrah dan tawakal. Baginya, mendidik anak dimulai dari keluarga (millieu), lingkungan kerja (ia pernah menjadi dekan FIP selama dua periode). Dan dalam keseharian, selalu diupayakan kaidah hidup dadi guru, ora guroni ananging naberi (menjadi guru jangan sekali-kali merasa lebih pinter, tetapi memberi contoh).

Meski puterinya menjadi menteri keuangan (Dr Sri Mulyani Indrawati-Red), yang memimpin masuknya lembaga donor internasional untuk meningkatkan mutu SDM, Satmoko tetap memiliki idealisme dalam membangun pendidikan di Indonesia. Baginya modal asing telah mencabut akar (uprot) kemampuan mandiri bangsa ini, mulai dari kemampuan petani, pedagang, pemodal, dan birokrat.

Sistem pendidikan harus dikembangkan dengan memberi kepercayaan kepada anak didik sepenuhnya. Untuk itu, guru harus memiliki idealisme dan panggilan hati (beruf) untuk mencintai anak didiknya. Sikap ini tidak dapat diperoleh dari bangku sekolah, tetapi perlu dilatih dalam kehidupan keseharian. Ya, lengkaplah sudah pemilikan Prof Satmoko sebagai guru, guru besar, dan pinandita yang dimiliki Unnes.

Kini Prof Satmoko telah tiada. Seorang yang biasa dan sederhana, tetapi memiliki magnitute kehidupan yang kuat, memiliki semangat idealisme yang besar bagi 10 anak, 25 cucu, dan ribuan murid yang ditinggalkannya.

Kami rela melepaskanmu, karena kami yakin bahwa Satmoko-Satmoko muda bakal lahir kembali, melalui anak, cucu, dan para muridnya.

Pernah Dicegat Fretilin, Tiga Kali Kena Malaria

Asri Purwanti, Kakak Menkeu yang Pernah Sengsara di Timor Leste
Tak semua dokter pernah bertugas di wilayah konflik. Seperti dr Asri Purwanti SpA (k) Mpd, yang 4 tahun bertugas di Timor Timur (sekarang Timor Leste). Kakak kandung Menkeu Sri Mulyani ini merasakan tugas di sana rawan konflik yang mengancam jiwanya.

PENGALAMANNYA bertugas sebagai dokter di wilayah Timor Timur sudah terjadi 19 tahun silam. Namun, Asri Purwanti tak akan pernah melupakannya. Saat itu Timor Timur diwarnai konflik menegangkan.

Asri bertutur, dia mengabdikan ilmunya di wilayah yang kini sudah menjadi negara Timor Leste itu pada 1985-1989. Ia memboyong sang suami, Edy Susianto SE, serta anak sulungnya, Aditya Retno Fitri, yang kala itu berusia satu tahun. "Saya berangkat ke sana (Dili) bersama suami dan anak. Kebetulan, suami juga bertugas di Kota Dili," ujarnya kepada RADAR SEMARANG (Jawa Pos Group).

Di wilayah yang masih berkonflik itu Asri bertugas di Puskesmas Centro, Kota Dili. Setelah dua tahun di ibu kota Timor Timur, Asri diangkat menjadi kepala Dinas Kesehatan di Kabupaten Liquisa, 45 kilometer dari Kota Dili.

Praktik di wilayah terpencil, konsekuensinya Asri tinggal di rumah dinas yang jauh dari layak. Ia juga tak memiliki perabot rumah tangga yang memadai. "Rumah dinas yang saya tempati kosong melompong. Tapi, untungnya dari Kota Dili saya membawa kompor dan kasur busa," kenangnya.

Air bersih sulit didapat, juga minim sarana transportasi. Untuk kebutuhan air sehari-hari, dia menggunakan air sungai yang sebenarnya tak layak untuk dikonsumsi. "Jika hujan turun, air sungai menjadi hitam. Mau tidak mau, saya menampung air hujan dari genteng. Setelah diendapkan, baru dipakai untuk memasak dan mandi," ujarnya.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan makanan, Asri kerap mengandalkan makanan kaleng yang dibawa dari kota asal. Sementara, lauknya tahu dan tempe serta sayur dia dapatkan seminggu sekali. Sebab, di Liquisa, pasar yang menjual bahan pokok hanya buka seminggu sekali.

"Jika makanan kaleng habis, saya mencari bahan yang bisa dimakan di dalam hutan. Tapi, untungnya ada tunjangan perang. Jadi ada lauk pauk dari tentara," tutur anak kedua dari sepuluh bersaudara, pasangan almarhum Prof Drs Satmoko dan almarhumah Prof dr Retno Sriningsih ini.

Bertugas di wilayah yang serba sulit bukan berarti gaji yang diterima Asri lebih besar, justru relatif kecil. Tak sepadan dengan tantangan yang dihadapi. Bahkan, selama enam bulan pertama bekerja, gajinya tidak keluar.

Padahal, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia butuh biaya besar. "Di sana (Timor Timur) apa-apa mahal. Karena hampir semua barang kebutuhan berasal dari luar Timor Timur. Standar ekonomi di sana sangat tinggi," kisahnya.

Baru pada bulan ketujuh gaji Asri sebagai kepala Dinas Kesehatan cair. Itupun jumlahnya hanya Rp 75 ribu per bulan. Meski begitu, Asri tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Semangatnya untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) masyarakat Liquisa yang kala itu masih di bawah standar, juga tetap tinggi. Bahkan, dari 60 warga yang bekerja di kantornya, beberapa orang di antaranya buta huruf dan minim pengetahuan. "Jadi saya tidak hanya bekerja sebagai dokter. Tapi, ngajari mengetik, membuat masakan, meracik obat, bahkan sampai ngajari nyopir mobil juga," ceritanya sembari tersenyum.

Asri mengaku sejak awal memiliki idealisme tinggi sebagai seorang dokter. Begitu lulus dari Fakultas Kedokteran Undip, dia bertekad mengabdi ke suatu tempat yang dipandang orang sulit, seperti medan perang. Tak heran, begitu dirinya mendapat tugas ke Timor Timur, tanpa pikir panjang langsung disanggupi. "Ya, sekalian ingin mengetes kemampuan saya," ucap ibu dari dr Aditya Retno Fitri, Andika Retno Ayuri, dan Arinta Retno Anggi ini.

Menurut dokter yang kini membuka praktik di Jl Cempedak Raya I No 11A Semarang ini, kesuksesan seorang dokter itu bukan hanya dinilai dari harta benda. Tapi, juga dari seberapa besar pengabdiannya di wilayah kritis. "Saat menghadapi situasi semacam itu, kita akan diuji seberapa besar kemampuan kita dalam berjuang memecahkan masalah" terangnya.

Selama bertugas di Timor Timur, dokter yang kini berpraktik di RSUP Kariadi dan RS Telogorejo, Semarang, mengaku pernah dihadang kelompok gerilya Fretilin. Beruntung, dia tak sampai diperlakukan yang membahayakan jiwa. "Kebetulan nama saya masuk daftar orang yang dilindungi. Saya dokter satu-satunya di Liquisa dan satu-satu dokter wanita," ujarnya.

Kakak kandung Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani ini mengaku pernah punya pengalaman menangani wabah penyakit malaria yang menyerang ribuan warga. Dia sampai harus masuk rumah sakit tiga kali, lantaran ikut terjangkit penyakit ini.

"Di sana, penderita malaria sudah stadium berat. Bahkan hampir 25 persen bayi yang baru lahir, begitu diperiksa, darahnya sudah mengandung kuman malaria," jelas dokter kelahiran Jogjakarta, 6 November 1955 ini.

Celakanya, persediaan obat-obatan sangat terbatas. Yang tersedia hanya obat puyer. "Pernah seribu puyer habis dalam sehari. Karena yang terjangkit juga ribuan. Sampai-sampai saya keliling daerah untuk membagikan puyer, " kenangnya.

Asri juga pernah punya pengalaman terperangkap selama seminggu, saat melakukan bina kesehatan di Pulau Afauru. Penyebabnya ombak laut yang besar, sehingga kapal penyeberangan tak berani beroperasi. "Saya baru bisa pulang setelah dijemput heli milik PMI," katanya.

Diakui, kondisi masyarakat Liquisa ketika itu masih terbelit kemiskinan serta minim pendidikan dan keterampilan. Karenanya setiap dana instruksi presiden (inpres) mengucur, tidak digunakan untuk membangun gedung pembelajaran.

Dana yang ada justru digunakan untuk membiayai lintas program. Semisal, panduan KB, pemberantasan buta huruf, peningkatan kesehatan masyarakat, serta pelatihan keterampilan. "Percuma buat bangun gedung, kalau akhirnya dijadikan kandang sapi," ucapnya.

"Saya juga ajarkan mereka keakraban terhadap masyarakat pendatang. Saya support mereka bahwa kita semua sama. Tidak ada perbedaan, baik orang Jawa maupun orang Timor Timur," tambahnya.


Jawa Pos
Minggu, 23 November 2008 ]


Para Saudara Kandung Sri Mulyani tentang Sri Mulyani

Para Saudara Kandung Sri Mulyani tentang Sri Mulyani

Yakinkan Masa Kecil yang Digembleng Kejujuran Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani merupakan anak ketujuh di antara 10 bersaudara dari pasangan Prof Satmoko (alm) dan Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko
(almh). Ketika skandal Bank Century menyita perhatian publik, para saudara kandung Sri Mulyani
di Semarang ikut terkena dampaknya.

ROEJITO, Semarang SALAH seorang saudara kandung Sri Mulyani yang masih tinggal di Semarang adalah dr Asri Purwanti SpA(K) Mpd. Wanita dokter spesialis anak yang tinggal di Jl Cempedak Raya I tersebut merupakan kakak Sri Mulyani (anak kedua).

Ketika ditemui di rumahnya yang sekaligus menjadi tempat praktik kemarin siang, dia menyambut dengan ramah. Padahal, saat itu dia harus segera bergegas ke Bandung. "Sejak kecil, kami sepuluh bersaudara dididik untuk jujur sama orang tua. Mas. Kamijuga dididik untuk memperjuangkan serta mempertahankan kebenaran dan keadilan. Kalau perlu, semua itu diperjuangkan, meski nyawa jadi taruhan," ujar Astri mengisahkan pesan-pesan mulia orang tuanya.

Soal kejujuran, misalnya. Dia mencontohkan orang tuanya, terutama sang ibu, yang tetap memberi apresiasi, meski dirinya pulang sekolah dengan memperoleh nilai utangan 6, sedangkan ada kawannya yang memperoleh nilai 9. "Saya tetap bangga karena nilai 6 itu kau peroleh dengan jujur, tidak nyontek," ungkap Astri menirukan ucapan ibunya suatu ketika.

Atas dasar itulah, dirinya sulit memercayai isu yang beredar sekarang ini. Apalagi soal keterkaitan adiknya dengan kasus Bank Century atau tuduhan-tuduhan miring yang lain. Secara pribadi. Astri sangat yakin adiknya sudah memiliki karakter kuat dan terdidik menjadi orang yang teguh pendirian

"Kami tetap yakin, sejauh ini apa yang Ani (Sri Mulyani. Red) lakukan sudah benar, profesional dan proporsional. Saya secara pribadi juga merasa tahu betul siapa dan bagaimana karakter Ani sejak kecil," tegasnya mantap kepada Radar Semarang (INDOPOS Group).

Bukan hanya soal kejujuran. Nilai positif lain yang menjadi lilik tekan Prof Satmoko (alm) adalah jalankan amanah dan niatkan ibadah. Jalankan amanah, kata Astri, merupakan salah satu manifestasi nasionalisme.

Sementara itu, niat ibadah merupakan hal .tak terpisah dari orang beragama. Menjadi keluarga religius-nasionalis, begitu Astri menyebutnya. Saudara kandung Ani -panggilan Sri Mulyani- yang lain adalah dr Sutopo. Dia adalah adik Ani (anak ke-9 di antara 10 bersaudara) yang berprofesi sebagai konsultan dan peneliti kesehatan serta dosen. Dia tinggal di Jl Kelud Raya, rumah warisan orang tuanya.

Sutopo mengungkapkan, soal masalah yang sekarang menimpa kakaknya terkait skandal Bank Century, pihak keluarga tetap solid mendukung. Apa pun kasusnya, keluarga menanggapi biasa-biasa saja. Semua disadari sebagai sebuah risiko dan tidak perlu dihadapi histeris, apalagi tanpa kontrol.

Dia menyalakan tetap mencermati kasus Century secara rasional, logis, tidak semata mengedepankan emosional. "Semua itu ada risikonya, Mas. Jadi, bagi kami sekeluarga, yang tengah dijalani Mbak Ani adalah hal biasa dan kami juga biasa saja," ujar pria berkumis itu tenang.

Soal dukungan keluarga yang all-out. Sutopo menuturkan semua itu didasarkan pada pertimbangan realislis-logis. Tidak emosional semata. "Bukan semata-mata karena Mbak Ani keluarga, saudara, atau kakak, lapi lebih dari itu. Kami tetap rasional." tegasnya.

Mengenang ’’Supermom’’ Prof Retno Sriningsih

MASYARAKAT Indonesia, khususnya Kota Semarang, baru saja kehilangan sosok yang sangat fenomenal, meski sebagian di antaranya belum berkesempatan mengenalnya lebih dekat. Tepat seminggu kemarin, jasad Prof Dr Hj Retno Sriningsih Satmoko dikebumikan di TPU Bergota Semarang, setelah Jumat (10/10) malam menghembuskan nafas terakhir di usia 77 tahun.
Ibu Satmoko, begitu ia biasa disapa rekan kerja, mahasiswa, dan handai taulan, adalah guru besar emeritus berpangkat IV E di Program Studi Manajemen Pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Semarang (Unnes). Dia lahir di Kebumen pada 11 Maret 1931, dari pasangan RM Martosoedirmo - Ny R Ng Mariam.

Sebelumnya, pada Desember 2006, suami tercinta Prof Drs H Satmoko wafat di usia 79 tahun. Dari pasangan bergelar guru besar emeritus ini, lahirlah 10 putra-putri yang sangat brilian, dengan profesinya masing-masing yang telah berkontribusi banyak bagi masyarakat. Salah seorang diantaranya Dr Hj Sri Mulyani Indrawati MSc, yang kini menjabat Menteri Keuangan dan Penjabat Menko Perekonomian RI. Mbak Anik, panggilan akrabnya, merupakan anak ketujuh.

Banyak hal yang sangat istimewa dan menarik untuk bisa dipelajari dari Prof Retno, baik sebagai seorang ibu, istri, nenek, rekan kerja, juga pendidik. Dari tangan beliau, telah lahir bibit-bibit yang sangat unggul. Prestasinya di ranah publik tidak kalah mengagumkan.

Di usianya yang senja, beliau masih aktif di beberapa organisasi di kampus maupun di luar kampus. Di kampus, ia dikenal sebagai sosok yang pandai, hangat, dan akrab sebagai dosen dan rekan kerja. Terakhir, beliau menjabat ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unnes (1999-2003). Tahun 2002, Unnes menganugerahinya gelar emeritus. Tahun 2003 sampai wafat mengajar sebagai dosen S3 (program doktoral), meski telah memasuki masa purna tugas.

Kesuksesan di ranah domestik dan ranah publik merupakan bukti bahwa Prof Retno merupakan supermom masa kini. Hal inilah yang membuat penulis menjadikan beliau sebagai subjek penelitian dalam proses penyusunan tugas akhir sebagai mahasiswi Fakultas Psikologi Undip Semarang. Tulisan ini adalah dedikasi dan penghormatan tertinggi penulis terhadap beliau yang sangat fenomenal dan patut dijadikan teladan bagi generasi muda, yang akan mengemban amanah sebagai orangtua.

Penelitian ini berawal dari ketertarikan penulis akan sosok ibu ideal dambaan keluarga. Penulis memiliki gambaran bahwa seorang ibu ideal adalah ibu yang mampu menjalani kodratnya sebagai ibu, alias mampu melakukan tugas pengasuhan anak hingga menghasilkan anak-anak yang sukses. Kemudian muncul pertanyaan dalam benak peneliti, bagaimana dengan ibu yang mengambil pilihan bekerja, tentu tantangannya akan lebih berat.

Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa ibu yang sukses menjalani dua peran sekaligus (ibu rumah tangga dan wanita karier) adalah sosok ibu ideal. Peneliti lalu memberikan label ibu yang sukses berperan ganda dengan sebutan supermom. Supermom adalah seorang ibu yang meraih kesuksesan tidak hanya dalam mengurus keluarga di rumah, tapi juga sukses berkarier di luar rumah (Qorinuka, 2005). Pertanyaannya, adakah sosok ibu yang memenuhi kriteria itu?
Fondasi Keluarga Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama tujuh bulan, dengan metode observasi dan wawancara mendalam (depth interview), diperoleh hasil bahwa beliau meyakini fondasi pernikahan terletak dari pelakunya yaitu suami dan istri. Poin utamanya, bagaimana memilih suami yang tepat dan sesuai dengan dirinya, atau dalam Islam dikenal dengan konsep sekufu. Sekufu adalah kesamaan suami-istri dalam pola dasar, pengetahuan yang dimiliki, profesi, hingga cara berfikir.

Saat penulis bertanya tentang kriteria pemilihan pasangan hidup, beliau menjawab, ‘’Saya dan Pak Satmoko mempunyai kesamaan pola dasar pengetahuan. Kebetulan profesi pun sama, sehingga kami berdua ini sekufu, tidak ada nilai yang berbeda. Ini perlu diperhatikan. Kalau sudah sekufu, pengelolaan kependidikan dalam keluarga akan berlangsung tanpa benturan. Konflik banyak, lumrah sekali ada riak-riak dalam keluarga. Tetapi seingat saya, konflik itu kecil-kecil dan tak berarti’’.

Prof Retno mengatakan, awal mula pengasuhan anak tidak lagi saat anak berada dalam kandungan ibu, tapi ada fase awal yang mendahului, yaitu saat memilih pasangan hidup. Dalam budaya Jawa, konsep pemilihan pasangan hidup itu dikenal dengan istilah bibit, bobot, bebet.

Bibit artinya asal-usul keluarga: dari mana pasangan dilahirkan, siapa yang menurunkan, apakah dari keluarga bertanggung jawab. Bobot berarti kompetensi diri: kemampuan yang dimiliki, kemampuan menjadi patner dalam mencapai tujuan pernikahan. Bebet artinya rezeki yang dimiliki: pekerjaan yang dijalani, cara yang ditempuh untuk meraih rezeki. Ada lagi pertimbangan tambahan, yaitu weton (hari kelahiran).

Seorang ibu tidak akan menjadi supermom, tanpa adanya seorang suami yang super pula, yang memiliki pemahaman dan visi yang cenderung sama dalam menjalani praktik pengasuhan anak. Prinsip kesetaraan dan keselarasan antara suami-istri dalam berumah tangga pun diperlukan dalam usaha meraih tujuan keluarga.

Dalam budaya Jawa, prinsip ini telah turun-temurun diwariskan dan dipegang teguh dalam keluarga Satmoko yang dikenal dengan istilah garwa (sigaraning nyawa). Sebagai garwa, istri harus sadar akan perannya sebagai istri, bahwa terkadang harus mengalah kepada suami. Begitu pula suami, terkadang harus mengalah kepada istri.

Persamaan tujuan pernikahan seharusnya dilakukan di awal pernikahan, sehingga tidak ada salah paham antarpasangan di kemudian hari, sehingga bisa mengarahkan anak-anaknya menjadi anak saleh. Setelah tugas pengasuhan anak dirasa lancar, Prof Retno akan menjalani peran selanjutnya, yaitu sebagai ibu yang bekerja. Menurut beliau, wanita yang sukses mendidik anak sekaligus berkarier adalah wanita yang mampu melakukan manajemen keduanya secara proporsional.

Selamat jalan Prof Retno. Ibu bukan hanya subjek (penelitian) bagi saya, lebih dari itu menjadi guru, model, dan motivator bagi saya dan kaum perempuan di Indonesia.

Suara Merdeka 18 Oktober 2008

Prof. Dr.Hj.Retno Sriningsih Satmoko: MENJADI MANUSIA SEUTUHNYA TANPA BERHENTI MENJADI WANITA SEPENUHNYA

Prof. Sri satmoko, ibunda dari menteri perekonomian Sri Mulyani ini gigih dalam membesarkan putra-putrinya sekaligus usahanya untuk terus menggali ilmu.
Didalam kehidupan penghidupan sebagai wanita banyak stereotip dan rambu-rambu yang membatasi gerak wanita, salah satunya anggapan wanita sebagai ‘konco wingking’ yang menggambarkan wanita hanya layak berada di belakang, namun saya lebih suka istilah ‘garwo’ yang artinya separuh nyawa, istilah ini menunjukkan bahwa pria dan wanita diciptakan untuk saling melengkapi.
bisa dikatakan kisah hidup saya bermula sejak saya menginjakkan kaki di Sekolah Guru A (SGA) dimana merupakan yang pertama di Indonesia, setiap lulusannya wajib untuk mengajar di Sekolah Lanjutan Pertama. sewaktu menjadi murid dahulu, saya sering mengukir prestasi di bidang olahraga, saat itu olahraga lompat tinggi dan lempar cakram merupakan cabang yang saya kuasai. tahun 1951 saya lulus dan mengajar olahraga di sebuah sekolah, karena mengajar bidang olahraga maka saya mengenakan celana agar lebih praktis, namun saat itu ternyata masyarakat belum terbiasa melihat wanita memakai celana sehingga seluruh lapanagan dipagari oleh pihak sekolah agar tidak terlihat masyarakat dari luar.
Tahun 1953 saat saya masih berusia 22 tahun, saya menikah dengan Prof. Satmoko. sebelum mengambil keputusan menikah orang tua saya sempat menawarkan pilihan untuk terus melanjutkan pendidikan ke fakultas pendidikan jasmani tapi tidak boleh menikah dahulu, memang dasar jiwa muda saya sedang bergejolak saat itu saya tetap memilih untuk menikah. walaupun sudah menikah namun saya tidak berhenti untuk terus belajar dan menuntut ilmu, tidak lama setelah menikah kami (saya dan suami) mendapat tugas belajar SI di suatu ilmu pendidikan Yogyakarta untuk bisa naik tingkat dapat mengajar di SLTA.
pada saat belajar SI di Yogyakarta tersebut, saya mengalami keguguran, namun saya tidak menyadarinya. pasca keguguran ibu saya menakut-nakuti bahwa saya tidak bisa mendapat anak lagi, saya sangat sedih dan takut. tidak disangka satu bulan kemudian saya kembali hamil, saya berhati-hati menjaga kandungan saya karena pada waktu itu saya masih menuntut ilmu, tak lama saya berhasil melahirkan anak pertama, setelah itu saya hamil lagi, begitu terus, bisa saya katakan saya sambil belajar beranak, sambil beranak belajar sampai saya lulus , yah hidup memang unik.
karena ada ketentuan PNS harus mengabdi ke luar pulau Jawa saat itu, dengan memboyong 3 orang anak kami sekeluarga merantau ke Tanjung Karang. Berada di Tanjung Karang hingga saya memiliki anak ke tujuh yaitu Sri Mulyani, ada hal yang mengesankan saat itu, untuk menambah keuangan keluarga saya berinisiatif untuk membuka koperasi di Tanjung Karang, padahal saya sama sekali tidak punya latar belakang di bidang ekonomi, cuma modal nekat namun ternyata bermanfaat bagi masyarakat sekitar, pada saat mengelola koperasi itulah saya tengah mengandung Sri Mulyani. Terlalu lama hidup di Tanjung Karang akan membuat kami tidak berkembang menjadi lebih baik, hal itu yang ada di pikiran saya saat itu, lalu tahun 1963 saya, suami beserta ke7 anak kami kembali ke Pulau Jawa, tanpa membawa apapun, semua barang saya tinggalkan di Tanjung Karang, hanya membawa tekad untuk menuju hidup yang lebih baik dengan bekal seadanya.
Tidak tahu mau tinggal dimana, tidak ada tempat yang dituju, belum ada tempat untuk berteduh. Saya hanya bisa pasrah saya berpikir jika Allah menghendaki anak-anak saya tinggal di gubuk maka kami akan tinggal di gubuk, jika Allah menghendaki anak-anak tinggal di gedung maka kami akan dapat gedung. Kami kembali ke Yogya, dan tidak disangka, ada salah seorang kerabat yang meminjamkan rumah dinasnya yang tidak terpakai kepada kami tanpa kami meminta. Begitulah, saya di Yogya kembali melanjutkan menuntut ilmu di fakultas Ilmu Pedagogi bersama suami, mungkin disini jiwa pejuang saya ditempa, sambil belajar pada saat itu saya kembali mengandung. Peran saya dituntut secara maksimal sebagai wanita, sebagai pelajar, sebagi ibu yang mengandung, dan sekaligus ibu rumah tangga yang wajib mengurus suami dan tujuh anak lainnya.
Pada masa-masa ini saya menyadari kompleksnya peran seorang wanita dalam kehidupan, dan memang hanya seorang wanita saja yang sanggup. Dalam rumah tangga saya harus menjadi manger yang handal, sebagai petugas belajar saat itu kami dilarang mencari honorarium, jadi yang kami miliki saat itu hanya gaji pokok, saya harus mengatur keuangan dan pengeluaran sedemikian rupa agar ketujuh anak saya tetap bisa makan dan sekolah, saya ingat betul waktu itu kami sampai harus makan separuh jagung, separuh nasi agar bisa bertahan, untuk mendapat pakaian anak-anak saya menjual lurik. Saya pribadi saat itu berperan ganda sebagai ibu, sebagai pengajar, sebagai pelajar, dan sebagai istri. Kewajiban mengajar saat itu sehari 18 jam, agar kebutuhan pokok kami terpenuhi, saya pribadi mengatur waktu sedemikian rupa, sehingga di tengah malam saya masih sempat untuk belajar. Sulit memang, tapi saya dan suami membiasakan diri untuk tidak mengeluh dan terus bertekad. Sedari dulu kami hidup secra prihatin, kami tidak mengajarkan anak-anak untuk berhura-hura
Semakin tinggi tingkat pendidikan maka karir say asemakin naik, jika dihitung saya sebenarnya sama kedudukan dengan suami, namun saat itu sebagai wanita kemapuan saya sering tiak diakui, pernah suatu ketika saya mengajukan proposal penelitian dan lolos seleksi di Jakarta, karena proposal saya berhasil saya berencana mengkoordinasi para dosen untuk terlibat dalam penelitian ini, namun salah seorang pejabat di kampus justru menegur saya dengan berkata “ Who are you? , kamu Cuma seorang wanita”, kata-katanya sangat menyakitkan dan membuat saya merasa terinjak-injak sebagai seorang wanita, pengalaman serupa sering terjadi sebenarnya. Beberapa saya meilih untuk mengalah, namun ada satu tekad di benak saya, semua orang bisa mengintervensi saya, tapi tidak untuk anak-anak saya. Pendidikan mereka akan terus saya perjuangkan demi kemajuan mereka. Begitulah sehingga saya memiliki sepuluh orang anak saat ini, dan kesepuluh-puluhnya saat ini bisa saya katakana telah mencapai kesuksesan.
Kunci dari segala keberhasilan tersebut adalah, kegigihan dalam berjuang dan memperoleh pendidikan, kami tidak pernah mengeluh dalam kesulitan tapi terus bahu mebahu. Dalam mendidik anak-anak, saya selalu memberikan kata-kata positif kepada mereka untuk membangun kepercayaan diri mereka saat di sekolah dan belajar, karena anak tiak mampu belajar dengan baik jika orangtuanya memandang remeh mereka.


DAFTAR SEPULUH ANAK PROF. SATMOKO:
1. Prof. DR.Dr.H.Agus Purwadianto, SH, Msi, Spf(K)
2. Dr.Hj.Asri Purwanti, SpA,MPd
3. DR.Ir.Hj.Nining Sri Astuti ,MA
4. Ir.H.Nanang Untung Tjahyono M
5. Ir.H.Teguh Trianung Djoko Susanto,MM
6. Ir.Hj.Umiyatun Hayati Triastuti,M.sc
7. DR.Hj. Sri Mulyani Indrawati
8. Dr.Hj.Sri Harsi Teteki,M.kes
9. Dr.Sutopo Patria Jati,MM
10. Hj. Retno Wahyuningsih,SE
contact us