Tampilkan postingan dengan label Infeksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infeksi. Tampilkan semua postingan

Mother to Child Transmission Diseases


Jenis penyakit-penyakit ini adalah termasuk penyakit infeksi. Infeksi pada sang ibu (bisa simptomatik/ dengan gejala atau asymtomatik/tanpa gejala). Artinya symtomatik bahwa sang ibu juga menderita gejala infeksi yang dialaminya. Sedangkan asymptomatic artinya sang ibu tidak menderita gejala infeksi yang dirasakannya, namun akibatnya menurun pada anak yang dikandungnya.

Jenis Infeksi ini dikenal dengan istilah TORCH (Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, HIV). Infeksi ini bila menyerang pada ibu hamil, maka akan membawa akibat kesehatan kepada janin yang dikandungnya. Infeksi virus-virus tersebut pada janin akan mengganggu perkembangan janin dalam kandungan. Akibatnya bisa berupa kelainan fisik atau kelainan perkembangan mental atau dua-duanya tergantung pada tahap mana perkembangan janin dalam kandungan saat infeksi tersebut menyerang.

Yang membahayakan pada jenia infeksi ini adalah bahwa sang ibu sering tidak sadar bahwa dirinya terserang infeksi tersebut (asymtomatik), artinya virus itu ada pada tubuh sang ibu namun tidak menimbulkan gejala sakit apa-apa. Jadi sang ibu tidak tahu bahwa dirinya membawa virus yang bisa ditularkannya kepada janin. Nah pada janin, virus-virus tersebut bermanifestasi, sangat membahayakan.

Bagaimana kita mengatasinya? Sekarang sudah banyak layanan kesehatan yang menyediakan sarana tes lab bagi ibu yang merencanakan kehamilan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi tersebut dalam dirinya. Sangat dianjurkan pada sang ibu yang mempunyai faktoe resiko tinggi untuk terserang infeksi tersebut.

Obat Radang Tenggorokan


Seperti kita ketahui minum obat merupakan jalan terakhir setelah sakit menyerang dan tetap saja yang paling penting mencegahnya. Tapi siapa yang tak tergiur dengan gorengan, minum yang seger-seger dan makanan yang pedas. Padahal ke-3 jenis makanan dan minuman itulah penyebab utama radang tenggorokan saya.
Radang tenggorokan yang saya derita memiliki gejala-gejala badan panas, demam, jika digunakan untuk menelan rasanya sakit, suara serak bahkan sampai membuat suara hilang, dan kadang disertai dengan flu. Jika itu semua terjadi dan belum sedemikian parah, saya biasanya akan menghentikan kegiatan makan dan minum seperti diatas, tapi jika sudah parah maka obat dibawah ini bisa digunakan untuk mempercepat penyembuhan.

antibiotik yang umum yang bisa di gunakan Amoxicillin dan Cefadroxil. Harganya murah, hanya Rp 10.000-an sepapan yg berisi 10 biji obat. Diminum 2-3 kali sehari dan berhubung ini antibiotik maka harus dihabiskan. Ingat, jika anda minum obat antibiotik maka itu harus dihabiskan.

2. ANALGESIK DAN ANTIPIRETIK
obat ini seperti panadol, aspirin, paracetamol generik. Harga nya pun Rp 10.000-an sepapan diminum 3 kali sehari, jika panas mereda boleh menghentikan minum obatnya. Obat ini berguna sebagai pain killer untuk mengurangi nyeri dan menurunkan panas. Saya menggunakan obat ini jika sudah benar-2 tidak bisa mengakomodir panas dan nyeri di badan.

3. MULTIVITAMIN
Minum vitamin C dan atau B kompleks. Vitamin berguna untuk segera memulihkan daya tahan tubuh. Pilih yang murah atau mahal. Hanya saja seringnya saya makan buah-buahan saja untuk mendapatkan vitamin yang dibutuhkan. Buahnya bisa apa saja mulai dari apel, pisang, mangga sampai kurma.
Dengan mengetahui obat radang tenggorokan seperti di atas, maka kita tidak perlu lagi ke dokter. Kenali gejalanya dan segera beli obatnya di apotek. Dengan begitu kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk berobat ke dokter.
Sedangkan untuk yang sering mengalami radang tenggorokan usahakan hindari makan dan minum yang saya sebutkan di atas, karena sejak saya mengurangi makan dan minum seperti diatas radang tenggorokan saya sudah lama tidak kambuh. Sayangi diri anda dan keluarga anda.

Cacingan pada Anak


Mendengar kata cacing, tentu pikiran kita akan membayangkan binatang yang bulat panjang tanpa tulang yang hidup di tempat kotor. Sudah barang tentu kita juga sudah tahu macam macam cacing baik cacing yang hidup di tanah yang biasa digunakan sebagai umpan maupun cacing yang hidup di air. Cacing yang hidup di tanah disamping bisa digunakan sebagai umpan, juga sangat membantu pak tani dalam menggemburkan tanah pertanian.

Sayangnya ada saudaranya cacing tanah yang doyan hidup di dalam usus manusia. Karena cacing merupakan salah satu makhluk hidup yang harus makan untuk mempertahankan hidupnya, maka di dalam perut pun cacing ini akan makan segala hal yang bisa dimakan. Nggak perduli apakah makanan itu dibutuhkan oleh yang punya perut, asal bisa dimakan akan dimakan oleh sang cacing. Curangnya si cacing ini, kalau jumlahnya banyak maka disamping yang makan ikut ikutan banyak, juga secara mekanis akan menyumbat saluran pencernaan. Bertambahlah penderitaan manusia yang mempunyai cacing indekos di perutnya.

Cacing pada manusia dalam menginfeksi sesungguhnya tidak memandang bulu. Asal bisa masuk, doi akan masuk ke tubuh manusia. Perantaranya pun bermacam macam namun yang paling sering adalah makanan terutama makanan yang tidak bagus secara hygines dalam penyajiannya. Walaupun menginfeksi manusia, cacing tidak meninggalkan sifat aslinya yang senang dengan lingkungan yang kotor dan lembab, itu sebabnya infeksi cacing sering ditemukan pada lingkungan masyarakat yang kumuh dan lembab. Bukan berarti orang orang yang selalu menjaga kebersihan akan bebas cacing 100 persen karena walau diri kita sendiri bersih, kita tidak bisa menghindari kontak dengan orang lain yang bisa saja membawa telur cacing.

Sebenarnya cacing pada manusia pun banyak jenisnya, ada cacing gelang, cacing pita dan cacing pipih. Tapi yang kita bahas disini adalah cacing gelang karena kasusnya paling banyak diantara infeksi cacing yang ada. Baiklah, sekarang kita bahas satu satu :

1. Cacing Perut (Askariasis)

Biasanya disebabkan oleh keluarga cacing Askaris lumbricoides yang merupakan cacing yang paling sering menginfeksi manusia. Cacing dewasa hidup di dalam usus manusia bagian atas, dan melepaskan telurnya di dalam kotoran manusia. Infeksi pada manusia terjadi melalui jalan makanan yang tercemar oleh kotoran yang mengandung telur cacing. Telur yang tertelan akan mengeluarkan larva. Larva ini akan menembus dinding usus masuk ke aliran darah yang akhirnya sampai ke paru paru lalu akan dibatukan keluar dan ditelan kembali ke usus. Penyulit yang timbul dari infeksi ini antara lain anemia, obstruksi saluran empedu, radang pankreas dan usus buntu.

2. Cacing Kremi (Enterobiasis)

Cacing yang memegang peranan disini adalah Enterobius vermikularis yang sering banget terjadi pada anak kecil. Cacing dewasa akan tinggal di usus besar. Cacing betina yang akan bertelur meninggalkan usus besar menuju anus yang merupakan tempat bertelur yang paling ideal. Saat inilah si anak akan menangis karena lubang anusnya gatal. Secara kasat mata, cacing ini akan terlihat sebesar parutan kelapa disekitar lubang anus. Transmisi cacing ini seperti halnya cacing perut masuk langsung melalui mulut baik dengan perantara makanan maupun dimasukan secara tidak sengaja oleh penderita yang habis menggaruk lubang anusnya yang gatal. Sehingga pada anak anak sering terjadi reinfeksi akibat tindakan itu.

3. Cacing tambang

Paling sering disebabkan oleh Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Cacing dewasa tinggal di usus halus bagian atas, sedangkan telurnya akan dikeluarkan bersama dengan kotoran manusia. Telur akan menetas menjadi larva di luar tubuh manusia, yang kemudian masuk kembali ke tubuh korban menembus kulit telapak kaki yang berjalan tanpa alas kaki. Larva akan berjalan jalan di dalam tubuh melalui peredaran darah yang akhirnya tiba di paru paru lalu dibatukan dan ditelan kembali. Gejala meliputi reaksi alergi lokal atau seluruh tubuh, anemia dan nyeri abdomen.

4.Cacing Cambuk (Trichuriasis)

Cacing dewasa akan tinggal di usus bagian bawah dan melepaskan telurnya ke luar tubuh manusia bersama kotoran. Telur yang tertelan selanjutnya akan menetas di dalam usus halus dan hidup sampai dewasa disana. Gejala yang timbul pada penderita cacing cambuk antara lain nyeri abdomen, diare dan usus buntu.

Demikianlah posisi empat besar cacing gelang yang sering menginfeksi manusia. Mudah mudahan tidak satupun dari mereka yang ngontrak di usus kita atau keluarga kita. Cara pencegahan sebenarnya cukup simpel yaitu kita harus menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan terutama dalam penyajian makanan. Dalam membeli makanan, kita harus memastikan bahwa penjual makanan memperhatikan aspek kebersihan dalam mengolah makanan.

Semoga bermanfaat.

Parasitic infection


Parasitic infection or infestation can occur in children of all ages. Infants, toddlers, and very young children in day care settings are at risk for the parasitic disease called giardiasis that causes diarrhea and is spread through contaminated feces. Pinworm infection (enterobiasis) also occurs among preschool and young school age children. Both preschool and school age children can become infested with head lice (pediculosis) or scabies, both of which are spread by close person-to-person contact as is common during childhood play.
 

Children of all ages can develop parasitic diseases such as giardiasis and cryptosporidiosis from swallowing contaminated water during swimming, playing, and other activities in contaminated recreational water (e.g. pools, fountains, lakes, rivers and streams, etc.). Pets and other animals can be a potential source of parasites that can affect children. Toxoplasmosis is a parasitic disease that is spread by contact with infected cat feces found in litter boxes and soil. Toxocariasis is a disease caused by a parasitic roundworm that is common in the intestines of dogs and cats.

One of the most important ways to help prevent these parasitic diseases is to teach children the importance of washing hands correctly with soap and warm water, particularly after using the toilet.

Children in malaria-endemic countries are at high risk of the ill effects of malaria infection. The majority of the world's malaria deaths are in African children under 5 years of age. They should receive treatment with an appropriate antimalarial drug within 24 hours of symptom onset, as well as sleep under an insecticide-treated bed net throughout the year.

Children in the United States are also at high risk for malaria infection when traveling to a malaria-endemic country. Children should be sure to take antimalarial drugs before, during, and after the trip, use repellant, sleep under an insecticide-treated bed net or in an air-conditioned room, and wear protective clothing.

www.cdc.gov
contact us