Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Kecerdasan Anak


Sering kali terjadi orang tua yang baru saja menerima selembar kartu ber-isi hasil pemeriksaan psikologis anaknya, mengerutkan dahi dan berta-nya `Apakah kecerdasan anak saya akan bertambah tinggi kalau usianya bertambah pula’ atau `Kapan sebaiknya saya bawa lagi anak ini untuk di tes kembali.’

Orang tua itu membawa anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun untuk diperiksa taraf kecerdasannya sebagai salah satu syarat untuk menjadi murid di sebuah sekolah dasar kelas 1. Di kartu hasil pemeriksaaan psikologis itu tercantum nilai kecerdasan anaknya (IQ= Intelligence Quotient) adalah 98 yang ber-arti potensi kecerdasan anak berada pada taraf `rata-rata’ menurut Skala Wechsler.

Dari pertanyaan dan nada suara orang tua itu, terkesan harapan agar anaknya kelak kalau bisa mempunyai taraf kecerdasan yang lebih tinggi daripada yang telah dimilikinya saat ini. Dapatkah harapan orang tua itu terwujud?

Sebenarnya yang diukur pada suatu tes intelegensi adalah potensi kecerdasan seseorang. Bila pada saat pengambilan tes, se-orang anak yang sedang menjalani tes itu berada pada keadaan `normal’ dan tidak ada `gangguan’ yang cukup berarti seperti dalam kondisi sakit atau berkali-kali mencari orang tuanya sambil terus menangis (sedang emo-sional)maka dapat diharapkan hasil tes intelegensi itu cukup optimal dan hasilnya berlaku untuk sepanjang hidupnya. Kecuali karena adanya gangguan-gangguan di atas taraf ke-cerdasan seseorang diperkirakan relatif sama.

Masa dalam kandungan sampai 5 tahun pertama dalam kehidupan seseorang adalah masa yang penting dan cukup menentukan untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental anak selanjutnya. Apa yang `di-tabur’ pada janin atau anak pada masa ini dipandang akan sangat berpengaruh dalam membangun kecerdasan fisik dan mentalnya. Pada masa ini sebaiknya orang tua melakukan `rekayasa’ yang perlu untuk mengoptimalkan kecerdasan anak.

CINTA KASIH

Apa yang paling dibutuhkan janin atau anak pada bulan-bulan atau tahun-tahun pertama dalam kehidupannya? Ia terutama membutuhkan cinta kasih. Seorang ibu hendaknya telah mengungkapkan cinta kasihnya kepada anaknya sejak dini yaitu ketika anaknya masih dalam kandungan bahkan sejak bulan-bulan pertama kehamilan, yaitu dengan melakukan komunikasi dengan si janin, misalnya: kok tidur melulu, bangun dong, atau `jangan keras-keras tendangannya ya’. Dengan cara ini, sang ibu secara aktif membangun komunikasi de-ngan si janin. Komunikasi itu juga dapat diba-ngun melalui sentuhan dengan cara menge- lus-elus perutnya seolah-olah mengelus si janin.

Beberapa hari setelah lahir, bayi melakukan reaksi emosional akibat kontak pertama-nya dengan dunia luar. Jantungnya berdetak lebih cepat apabila ia mendengar suara ibu-nya. Kedekatan dan keterikatan dengan sang ibu memberi banyak pengalaman sehingga nantinya terbentuklah rasa percaya diri pada seorang anak. Komunikasi dan sentuhan yang dilandasi cinta kasih hendaknya dapat dipertahankan terutama pada masa tahun-tahun pertama dalam kehidupan seseorang. Faktor cinta kasih ini menjadi sangat penting karena saat mencintai berarti kita menerima sese- orang apa adanya. Kondisi ini menimbulkan rasa aman sehingga membuat konsentrasi anak terfokus pada potensinya, bukan pada cap atau kekurangannya.

Lingkungan yang kondusif

Anggapan bahwa kecerdasan anak dapat `direkayasa’ dalam arti anak diberi kesempat-an mencapai potensi kecerdasannya yang optimal tampaknya sudah dapat diterima oleh banyak kalangan. Dari dua faktor yang paling menentukan tumbuh kembangnya anak yakni: faktor keturunan (herediter) dan faktor ling-kungan, maka `rekayasa’ dengan mengen- dalikan faktor lingkunganlah yang paling aman dan dapat diterima baik ditinjau dari segi etika, moral maupun agama.

Gizi dan Nutrisi

Penelitian telah membuktikan adanya korelasi positif antara kandungan kalori/ protein yang dikonsumsi ibu hamil dengan perkem-bangan motorik maupun mental anak yang dilahirkannya. Kalaupun demikian, bayi yang mendapat konsumsi kalori protein serta zat gizi lainnya yang cukup akan memiliki perkem-bangan motorik maupun mental yang lebih baik dibandingkan bayi yang kurang menda-patkannya. Tentunya untuk mendapat hasil yang optimal, orang tuanya sebaiknya menambah wawasan dengan membaca buku-buku yang membahasnya secara terperinci atau menanyakan langsung kepada ahlinya, dokter anak atau ahli gizi.

Stimulasi /Rangsangan

Otak manusia perlu dirangsang sebanyak mungkin dan dimulai sejak dini, yaitu sejak dalam kandungan. Kalau tidak ada rangsang-an, jaringan organ otak menjadi mengecil aki-bat menurunnya jaringan fungsi otak. Rangsangan dapat berupa tindakan mengajaknya berbicara, mendongeng atau memperdengarkan musik. Komunikasi hendak-nya mengalir dengan bahasa yang sederhana, sehari-hari, dimengerti dan `dimiliki’ anak. Dengan demikian diharapkan bayi atau anak mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan dunia luar, khususnya dalam hal berbahasa. Selanjutnya, bayi atau anak diharapkan dapat mengungkapkan berbagai macam pengalaman emosional yang diterimanya, misalnya ketika anak minum ASI, dicium dan disayang. Ia juga belajar cinta kasih yang ada kaitannya dengan kakaguman, kebanggaan, pemberian maaf dan persahabat-an. Rangsangan-rangsangan yang tepat diharapkan dapat `memunculkan’ potensi/bakat kemampuan anak, seperti antara lain: musik, matematika, melukis, menari dan lain sebagainya.

Sikap dan Pola Asuh Orang Tua

Kadang-kadang orang tua tidak sabar de-ngan sikap dan pola asuh yang diterapkan kepada anaknya. Dengan bertambahnya usia dan dengan semakin luasnya lingkungan sosial anak maka rasa ingin tahu anak diharapkan semakin tumbuh. Bukannya mendorong rasa ingin tahu alami anak serta mengembangkan keinginan belajarnya, orang tua malah melakukan kebalikannya. Rasa ingin tahu seorang anak akan sesuatu hal akan pupus apabila ia berkali-kali datang dan bertanya kepada orang tuanya serta mendapati bahwa orang tuanya tidak berminat untuk menjawabnya bahkan memperlihatkan kehadiran anak de-ngan pertanyaannya telah mengganggu `ke-asyikan’ sang ayah atau ibu, misalnya: ayah yang sedang membaca koran atau ibu sedang menonton televisi.

Selain sikap orang tua yang ambisius atau pola asuh yang otoriter dapat membuat anak frustasi dan ketakutan, contohnya: orang tua menunjukkan sikap tidak suka apabila anak-nya menunjukkan kemampuan bernyanyi di depan umum karena ayah berpendirian bahwa anaknya tidak boleh menjadi seorang pe-nyanyi atau artis apabila ia sudah menjadi dewasa kelak. Adalah sangat bijaksana apabila orang tua memperhatikan dan memberikan respon positif terhadap `bakat-bakat ` yang telah diperlihatkan anak. Dengan demikian orang tua bertindak sebagai fasilitator dan mengembangkan `bakat’ anak yang terlihat.

Ikan dan ASI Baik untuk Bayi


Makanan yang mengandung protein dan asam lemak tak jenuh ganda terbukti mampu memacu pertumbuhan otak kanan dan kiri secara seimbang. Asam Arakhidonat ( AA ) dan Asam Dokosaheksanoat ( DHA ) merupakan senyawa lemak yang saat ini sedang menjadi perhatian dari para ahli gizi.

Guru besar ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Undip, Prof dr Fathimah Muis MSc Sp GK menyebutkan bahwa AA-DHA banyak ditemukan pada sumber-sumber lemak nabati dan ikan. Selain kacang-kacangan dan ikan, air susu ibu ( ASI ) merupakan sumber AHA dan DHA yang seimbang.
Fathimah menyebutkan, sumber utama AA adalah minyak jagung ( 57%), kedelai (51%), kuning telur. Sedangkan DHA banyak ditemukan pada minyak hati ikan cod ( 9-12%), minyak ikan salmon ( 11%) dan ikan makarel.
” Studi pada wanita hamil di Kanada menunjukan bahwa asupan DHA dibawah angka kecukupan memicu gangguan kesehatan pada ibu dan janin, ” kata Fathimah dalam seminar ” peran AA-DHA serta musik dalam tumbuh kembang optimal dan strategi pencapaiannya” baru-baru ini, di Balai Kota.
Lebih lanjut Fathimah menjelaskan bahwa AA dan DHA merupakan komponen penting dalam susunan syaraf pusat. Senyawa lemak ini terakumulasi pada retina, masa kelabu otak, dan jaringan reproduksi. Senyawa lemak ini penting untuk pertumbuhan otak dan penglihatan anak. Asam lemak tak jenuh ganda ini juga dibutuhkan pada perkembangan janin dan bayi. ” Pasokan AA dan DHA sangat dibutuhkan terutama pada trimester terakhir, pasca kelahiran dan masa dini anak.”

Meski saat ini sejumlah merk makanan instan bayi menawarkan asupan AA dan DHA, pembicara lain, Dr Asri Purwanti SpA, MPd menganjurkan para ibu tetap memberikan ASI selama mungkin. Menurut Asri, tumbuh kembang otak kiri dan kanan anak harus seimbang. Asupan gizi, penting untuk pertumbuhan otak. Namun pendidikan secara afeksi dan emosi juga berpengaruh pada perkembangan anak.
” Anak harus diberi stimulan-stimulan seiring pertambahan usianya. Stimulasi agar anak memiliki rasa tanggung jawab, mampu membedakan baik dan buruk, harus dimulai sejak dini,” pesannya.
Stimulan untuk otak kiri dapat dilakukan dengan melatih bahasa, logika, matematika, membaca atau menulis. Sebaliknya, otak kanan berhubungan dengan imajinasi, emosi dan interpersonal.

Senada dengan para ahli gizi, Asri mengajurkan agar makanan sehari-hari harus bervariasi. Setiap hari kebutuhan asam lemak sekitar 340-400 mg/hari. Selain variasi lemak nabati dan hewani, Asri menganjurkan penggunaan minyak dengan asam lemak nabati dan hewani, Asri menganjurkan penggunaan minyak dengan asam lemak tak jenuh ganda. ” Agar terhindar dari jantung koroner,minyak kedelai, minyak kacang,dan jagung, lebih baik daripada minyak kelapa,” ujarnya.”Hindari makanan yang digoreng pada temperatur tinggi dan lama karena asam lemak dapat berubah bentuk dan merugikan tubuh.”

contact us