Hipertensi pada Anak


Anak bahkan bayi dapat mengalami hipertensi, bahkan penyakit ini dapat menimbulkan kematian. Penting dilakukan deteksi dini dengan pengukuran darah secara rutin pada setiap anak usia 3 tahun ke atas paling sedikit sekali setahun.

Hipertensi pada anak dibagi dua kategori, yaitu hipertensi primer bila penyebab hipertensi tidak dapat dijelaskan atau tidak diketahui penyakit dasarnya, biasanya berhubungan dengan faktor keturunan, masukan garam, stres, dan kegemukan. Sedangkan hipertensi sekunder terjadi akibat adanya penyakit lain yang mendasarinya.

Dati penelitian selama ini menunjukkan hipertensi pada anak kebanyakan (80%) bersifat sekunder akibat penyakit lain.

Satu sampai tiga dari 100 anak yang diperiksa tekanan darahnya menunjukkan hipertensi dan 0,1% di antaranya merupakan hipertensi berat. Diperkirakan 2/3 dari anak dengan hipertensi di kemudian hari akan menderita kerusakan ginjal bila tidak ditangani dengan tepat.

Banyak faktor yang mempengaruhi tekanan darah anak. Anak yang lebih berat atau lebih tinggi badannya mempunyai nilai tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan anak sebaya yang lebih kurus dan pendek.

Berdasarkan rekomendasi The Task Force, hipertensi pada anak adalah suatu keadaan di mana tekanan darah sistolik dan atau diastolik rata-rata berada pada persentil besar sama dengan 95 menurut umur dan jenis kelamin, yang dilakukan paling sedikit tiga kali pengukuran.

Klasifikasi hipertensi menurut derajatnya adalah hipertensi ringan, bila tekanan darah baik sistolik maupun diastolik berada 10 mmHg di atas persentil ke-95 (khusus remaja 150/100-159/109 mmHg). Hipertensi sedang, bila tekanan darah baik sistolik maupun diastolik lebih besar dari 20 mmHg di atas persentil ke-95 (khusus remaja besar dari 160/110 mmHg.

Penyebab hipertensi pada anak dapat digolongkan menjadi enam kategori utama, yaitu penyakit ginjal, hampir 80% penyebab hipertensi pada anak berasal dari penyakit ginjal. Biasanya timbul dalam bentuk akut atau berlangsung menetap (kronik).

Hipertensi akut dapat ditemukan pada penyakit sindroma hemotolik uremik, lupus eritematosus sistemik dan gagal ginjal akut. Hipertensi kronik biasanya berkaitan dengan penyakit parenkim ginjal dan kelainan ginjal bawaan. Sekitar 12% penyebab hipertensi kronik disebabkan oleh penyakit pembuluh darah ginjal.

Penyakit jantung dan pembuluh darahnya, yaitu koarktasio aorta selalu menyebabkan hipertensi baik pada masa bayi maupun anak. Penyakit ini ditandai dengan tekanan darah pada lengan atas lebih tinggi dari tekanan darah pada tungkai, denyut nadi perifer melemah atau sulit diraba dan terdengar suara bising jantung.

Gangguan hormonal karena penyakit endokrin serta gangguan saraf karena tumor, infeksi atau trauma terhadap otak dapat menimbulkan hipertensi. Faktor lain adalah pemakaian obat kontrasepsi, kortikosteroid, dan obat tetes hidung.

Hipertensi primer kebanyakan dijumpai pada remaja laki-laki dalam bentuk derajat ringan dan biasanya tidak menunjukkan gejala klinis.

Gejala umum yang timbul pada anak adalah sakit kepala, pusing, penglihatan kabur, nyeri perut, muntah, nafsu makan berkurang, gelisah, berat badan turun, dan keringat berlebihan.

Pengobatan hipertensi pada anak tergantung dari derajat berat ringannya hipertensi dan penyakit yang mendasarinya. Pengobatan tanpa obat (nonfarmakologik), biasanya digunakan pada remaja dengan hipertensi primer dalam derajat ringan.

Pengobatan terdiri atas perubahan pola makan dengan mengurangi garam dalam makanan sehari-hari, olahraga, menurunkan berat badan, mengurangi stres, berhenti merokok dan minum alkohol dan menghentikan pemakaian obat-obatan yang menyebabkan hipertensi.

Pengobatan dengan obat antihipertensi (farmakologik) harus di tentukan terlebih dahulu indikasi yang pasti, seperti tidak berespons terhadap pengobatan tanpa obat, hipertensi berat, adanya gejala klinis yang berhubungan dengan kenaikan tekanan darah. Obat untuk mengontrol tekanan darah atau peninggian tekanan darah mendadak pada anak umumnya hidroklorotiazid, furosemid, kaptopril, propanolol, dan klonidin.

Tindakan operasi biasanya ditujukan untuk mengobati penyebab hipertensi sekunder yang berkaitan dengan penyakit ginjal, penyakit pembuluh darah ginjal dan koarktasio aorta.
0 Responses

contact us